Senin, 15 Juni 2009

ANCAMAN PENCEMARAN TERHADAP KELESTARIAN BIOTA LAUT(2006-05-01 07:20:49 Paulus Londo & Anastasia Widiy )




Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dua per tiga wilayahnya terdiri dari perairan laut. Dalam area laut territorial seluas sekitar 51.193.250 kilometer persegi, bertebaran 17.085 pulau besar kecil, berpenghuni maupun kosong. Karena letaknya di garis katulistiwa, lautan Indonesia memiliki karakter khas, yakni perairan tropis yang kaya dengan berbagai sumber dalam alam, baik kekayaan alam hayati maupun non-hayati. Tentu akan sangat ideal jika laut hidup bangsa Indonesia.Sayangnya, laut belum dimanfaatkan secara maksimal. Sementara ancaman terhadap kelestarian sumber daya alam laut sangat tinggi. Di perairan laut yang masuk wilayah Propinsi DKI Jakarta saja, dalam observasi singkat LS2LP (Lembaga Studi Sosial, Lingkungan & Perkotaan) yang terindikasi telah tercemar mencakup area seluas 5 km dari tepian pantai ke laut lepas. Indikasi pencemaran ini juga terlihat pada hasil foto udara yang menunjukan rona berbeda dengan rona perairan laut di luarnya.Unsur Hayati Laut IndonesiaDimaksud dengan perairan laut Indonesia adalah keseluruhan wilayah laut yang berada dalam yurisdiksi teritorial negara Republik Indonesia. Ditilik dari struktur dan karakteristik alamnya, wilayah perairan laut dapat dibagi atas beberapa bagian, yakni, wilayah pantai, perairan dangkal, laut dalam termasuk palung-palung laut sering dengan kedalaman diatas melebihi 5000 meter. Karakter alam pada setiap bagian laut, berbeda dengan yang lain, sehingga unsur hayati laut (biota) yang hidup di dalamnya juga tidak sama.Dimaksud dengan unsur hayati (biota) laut adalah semua jenis fauna dan flora yang habitat hidupnya di perairan laut dan sirkulasi kehidupannya sangat tergantung pada kondisi serta karakteristik lingkungan alam laut, seperti, kejernihan air, kandungan mineral, salinitas (kadar garam). suhu, pola arus, dan sebagainya. Tentu termasuk pula aneka organisma hanya bisa terlihat dengan bantuan mikroskop. Dengan keadaan geografi yang unik dan berada di kawasan tropis, maka jenis hayati laut Indonesia sangat beraneka ragam. Semua itu tentu menjadi kekayaan nasional dan oleh karenanya harus dilestarikan demi kesejahteraan masyarakat.Ditilik dari lingkup habitatnya, unsur hayati laut dapat dibagi atas:
Biota Perairan Pantai termasuk area peralihan antara daratan dan laut yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Kawasan ini umumnya ditandai dengan adanya hutan mangrove, serta perairan yang kaya akan bermacam mikroba. Biota laut yang hidupnya berasosiasi dengan mangrove antara lain berbagai jenis moluska (siput air), udang, kepiting, tiram, ikan-ikan tertentu, ular rawa, buaya, biawak, dan sebagainya.
Biota Perairan Dangkal yakni kawasan perairan di sekitar pantai atau di kawasan terumbu karang. Unsur hayati laut yang hidup di kawasan ini biasanya sangat variatif, mulai dari kelompok plankton, moluska, rumput laut hingga berbagai jenis ikan. Terumbu karang sendiri adalah biota laut yang terbentuk dari endapan masif kalsium karbonat yang dihasilkan oleh berbagai karang dan organisma-organisma lain. Sebagai ekosistem hayati laut, terumbu karang merupakan eksosistem yang kompleks dan produktif dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Masing-masing memiliki bentuk dan warna yang beraneka ragam sehingga menjadi panorama alam dasar laut yang indah. Selain itu dengan produktivitas organik yang tinggi, terumbu karang berfungsi sebagai tempat mencari makan, pelindung fisik, tempat tinggal, berpijah (bertelur) dan berkembangnya berbagai jenis biota laut. Secara singkat unsur hayati laut yang tersebut dibagi atas:
Kelompok organisma jentik meliputi jenis: - Alga (gracilaria, gelidum, Hypnea, dan sebagainya).- Krustasea (kepiting, udang, udang karang, rajungan, rajungan batu, dan sebagainya).
Kelompok moluska (lola, trochus niloticus, kerang mutiara, turbo marmoratus, dan sebagainya).
Kelompok ekhinodermata (teripang, bulu babi, dan sebagainya.
Kelompok ikan meliputi jenis:
Ikan ekor kuning, ikan pisang-pisang dan sejenisnya.
Berbagai jenis ikan hias. Selain terumbu karang, perairan laut dangkal terutama di dekat pantai ditemukan padang lamun (sea grass beds) dan rumput laut (sea weeds). Padang lamun adalah area yang dipenuhi lamun yakni sejenis tumbuhan berbunga yang terbenam di dalam air, sedang rumput laut adalah sejenis rumput-rumputan yang tumbuh di dalam air memiliki substrat keras dan kokoh sebagai tempat melekat.
Unsur Biota Laut Dalam, yakni biota laut yang habitatnya jauh dari pantai, antara lain:
Kelompok ikan:
Jenis Ikan Pelagis yaitu ikan yang berenang bebas di perairan seperti cakalang, ikan layar, ikan terbang, tongkol, tuna dan sebagainya.
Jenis Ikan Demersal, yaitu ikan yang hidup di dasar laut, seperti kakap, kerapu, cucut, dan sebagainya.
Kelompok biota bukan ikan, seperti krustacea (berbagai jenis udang dan kepiting), moluska (berbagai jenis kerang, tiram dan sejenisnya), ekhinodermata (berbagai jenis teripang, binatang bulu babi, binatang bintang laut) dan berbagai jenis biota laut lainnya.Pencemaran Lingkungan LautSaat ini kelestarian hayati (biota) laut Indonesia menghadapi ancaman serius. Bahkan sebagian diantaranya telah mendekati kepunahan akibat pencemaran dan perusakan alam lingkungan laut. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, baik oleh masyarakat, pemerintah maupun lembaga-lembaga internasional, namun tetap tak mampu mencegah degradasi kualitas lingkungan perairan lain.Secara normatif “Perusakan Lingkungan” diartikan sebagai segala tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan, yang mengakibatkan lingkungan itu kurang atau tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Sedangkan “Pencemaran Lingkungan” adalah masuknya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.Apabila pencemaran dan perusakan lingkungan tidak diatasi dengan sungguh-sungguh, maka dampaknya akan akumulatif sehingga membahayakan kelangsungan hayati laut, bahkan mengancam kehidupan manusia. Kerusakan lingkungan perairan umumnya terjadi karena ulah manusia, seperti akibat penangkapan ikan dengan bahan peledak yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang, penggunaan arus listrik atau bahan kimia beracun, atau pemakaian alat tangkap yang dapat merusak habitat fauna dan flora laut seperti jaring pukat harimau, dan sebagainya.Ancaman yang juga amat berbahaya bagi kelestarian hayati laut adalah pencemaran laut yang berlangsung terus menerus sepanjang waktu. Sumber benda atau zat pencemar (polutan) yang masuk ke perairan laut umumnya berasal dari :
Penggunaan bahan kimia dalam penangkapan ikan, atau pengolahan hasil laut lainnya. Penangkapan ikan dengan menggunakan sianida tidak hanya mengancam kelestarian biota laut, tetapi sekaligus menimbulkan kerusakan lingkungan yang parah. Begitu pula pencemaran yang terjadi akibat akumulasi sisa-sisa mercuri yang menghancurkan biota tertentu, bahkan membahayakan jiwa manusia. Biasanya kehancuran hayati laut ditandai dengan berkurangnya ikan tertentu di suatu kawasan dan kemudian diikuti dengan punahnya makhluk hidup lain di wilayah laut tersebut. Atau kepunahan semua makhluk hidup terjadi serempak yang ditandai dengan banyaknya ikan serta biota laut terapung mati di permukaan laut.
Tumpahan minyak/bahan kimia dari kapal-kapal yang mengalami kecelakaan di laut, atau kapal yang tidak dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah yang memadai, atau kapal yang sengaja membuang limbah ke laut. Beberapa hasil penelitian memaparkan bahwa pencemaran akibat limbah dari kapal belakangan ini cenderung meningkat. Ini bisa terjadi karena sebagian kapal tidak dilengkapi dengan sarana pengolahan limbah bahkan sengaja membuang limbahnya ke laut. Sementara sistem pengawasan laut Indonesia sangat minim. Berbeda dengan negara maju, Indonesia hingga kini belum memiliki alat pendeteksi limbah pelayaran yang hasilnya bisa dijadikan dasar menyeret pelaku pencemaran ke pengadilan.
Kiriman limbah dari darat yang terbawa oleh aliran air sungai. Pencemaran tersebut biasanya terjadi di kawasan berdekatan dengan daerah industri. Di perairan Teluk Jakarta, misalnya, akibat akumulasi pencemaran yang berlangsung secara terus menerus telah menimbulkan pencemaran laut yang cukup signifikan. Bahkan kawasan perairan ini seakan-akan telah berubah menjadi “septic tank” besar yang setiap hari tanpa henti menampung berbagai kotoran yang berasal dari daratan Jakarta. Beberapa sumber mengatakan bahwa berdasarkan pengamatan dari udara, terlihat adanya perbedaan warna yang kontras pada wilayah perairan teluk Jakarta, terutama pada tepian pantai hingga sejauh 5 kilometer ke arah laut lepas, akibat kadar pencemaran yang cukup tinggi. Tingginya tingkat pencemaran tersebut tentu tak terlepas dari adanya 13 sungai yang bermuara di teluk Jakarta. Namun kondisi tersebut menjadi semakin buruk akibat ketidak-pedulian masyarakat terhadap lingkungan perairan laut, setidaknya hal ini tampak pada kenyataannya masalah limbah jarang diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan kota.Kerusakan lingkungan pada wilayah pesisir pantai, terutama pada kawasan rawa-rawa dan hutan mangrove semakin menambah kadar pencemaran laut, sebab zat-zat beracun baik dari limbah rumah tangga maupun industri langsung terbawa air ke laut tanpa melewati proses penguraian terlebih dahulu. Zat-zat tersebut kemudian mematikan jenis biota laut tertentu, dan sebagian terserap oleh ikan-ikan sehingga membahayakan kesehatan manusia.Upaya Pencegahan Dewasa ini tingkat ancaman terhadap hayati laut sudah sangat serius. Apalagi banyak nelayan asing beroperasi tanpa ijin. Keberanian nelayan asing melanggar batas-batas laut nusantara yang ditentukan juga cukup tinggi. Bahkan berani melawan petugas dengan senjata api, meski berada di perairan teritorial Indonesia.Mengatasi berbagai gangguan dan ancaman di atas memang tidak gampang. Wilayah perairan laut Indonesia yang sangat luas dengan keragaman sifat dan karakternya memerlukan biaya pengamanan yang tinggi. Tentu disamping ketersediaan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Dari aspek hukum, pengamanan laut dari ancaman perusakan dan pencemaran sesungguhnya sudah optimal. Setidaknya sudah banyak produk perundangan-undangan yang mendukungnya. Namun piranti hukum tentu tak akan bermakna bila tidak ditopang dengan kemampuan menegakkannya secara konsisten dan tegas di lapangan. Disinilah letak kompleksitas permasalahan, karena untuk semua itu memerlukan kesiapan aparat penegak hukum yang trampil beroperasi di medan laut (dengan segala karakteristiknya). Selain itu juga membutuhkan sarana pendukung dalam jumlah memadai, terutama alat apung yang mampu bergerak cepat. Pengadaan sarana dan penyiapan tenaga aparat memerlukan biaya tinggi yang akan terasa memberatkan bila hanya terpusat pada unsur-unsur kekuatan tertentu saja. Berpijak pada prinsip, bahwa pengamanan dan perlindungan terhadap kekayaan laut adalah pada hakekatnya menjadi tugas nasional maka seyogyanya seluruh warga negara wajib melaksanakannya. Karena itu, perlu dirancang sistem pengamanan dan perlindungan kekayaan laut yang dapat menampung partisipasi segenap warga negara. Penyelenggaraan program pelatihan khusus bagi nelayan, masyarakat pantai, para pelaut tradisional, dan unsur masyarakat lainnya yang terkait dengan laut agar mampu melaksanakan tugas-tugas tadi, mengandung makna strategis bagi masa depan bangsa. Sebagai negara kepulauan di kawasan tropis, jenis hayati laut Indonesia sangat beraneka-ragam. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang karakteristiknya juga beragam sebagai habitat kehidupan berbagai jenis biota laut tersebut. Namun sebagian besar sumberdaya hayati laut yang ada mulai terancam kepunahan akibat perusakan dan pencemaran yang tinggi di perairan laut. Akibatnya, dalam jangka panjang Indonesia bakal kehilangan kekayaan alam laut, dan masyarakat nelayan bakal kehilangan sumber penghidupannya.Proses pencemaran laut umumnya disebabkan oleh penggunaan bahan kimia dalam penangkapan ikan, pembuangan limbah oleh kapal-kapal, serta kiriman limbah dari darat yang terbawa oleh aliran sungai. Adapun pencemaran yang bersumber dari darat cenderung meningkat. Ini terjadi selain akibat rendahnya kesadaran masyarakat, lemahnya penegakan hukum, juga karena hancurnya sebagian hutan mangrove dan kawasan rawa-rawa pantai yang berfungsi sebagai penyaring (filter) zat kimia beracun yang terbawa aliran air dari darat ke laut.Upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut belum maksimal terutama akibat keterbatasan sarana, dana, sumber daya manusia, serta rendahnya kesadaran masyarakat. Pada aspek legal memang telah ditetapkan sejumlah ketentuan hukum dan perundang-undangan yang dapat membatasi praktek pencemaran laut sekaligus untuk melestarikan sumber daya alam hayati yang hidup di dalamnya. Namun implementasi ketentuan tersebut masih mengalami banyak kendala. Sementara di sisi lain, partisipasi masyarakat juga masih sangat rendah. Mengingat sebagian besar kekayaan hayati laut Indonesia belum terinventarisasi dan teridentifikasi dengan lengkap, maka kegiatan penelitian kelautan harus ditingkatkan. Sehubungan dengan itu, pemerintah dapat bekerjasama dengan lembaga perguruan tinggi dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri, terutama yang memiliki kompetensi memadai di bidang kelautan. Selain itu, disiplin ilmu yang berhubungan dengan kelautan seyogyanya dikembangkan, dan pendidikan kelautan dapat diajarkan mulai tingkat sekolah dasar.Pencegahan pencemaran agar ditingkat melalui program-program yang terpadu dan bersifat lintas sektor. Di sisi lain upaya penyelamatan terhadap spesies hayati laut yang mendekati kepunahan perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh. Dalam rangka itu pula, penangkapan ikan dan biota laut lainnya dengan menggunakan bahan beracun harus dipandang sebagai kejahatan terhadap lingkungan dan patut dikenai sangsi berat. Hal yang sama juga dapat dikenakan kepada pihak yang sengaja membuang limbah beracun ke laut, atau sengaja mengalirkan zat-zat beracun ke sungai.Penyadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian hayati laut harus ditingkatakan melalui program-program nyata, berbasis pada masyarakat pesisir pantai. Demikian pula event-event yang berorientasi pada pembinaan semangat cinta bahari hendaknya ditingkatkan dan disebarkan kesemua daerah dengan melibatkan organisasi-organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa.
http://beta.tnial.mil.id/cakrad_cetak.php?id=468
http://sains.kompas.com/read/xml/2009/05/07/23280012/polusi.dan.pemanasan.global.matikan.biota.laut
Kamis, 7 Mei 2009 23:28 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti pada Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian Institution Washington Amerika, Nancy Knowlton mengatakan wilayah laut yang luas memang berpotensi sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang besar. Akan tetapi hal tersebut dapat mengakibatkan rusaknya kehidupan biota laut. Hal tersebut dijelaskan Nancy dalam diskusi tentang keanekaragaman terumbu karang di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Kamis.
"Laut memang menyimpan potensi penyerapan karbon besar tetapi dampaknya bisa mengakibatkan kadar air laut menjadi asam (asidifikasi) yang bisa menyebabkan kerusakan biota laut," kata Nancy yang datang ke Indonesia sebagai salah satu peneliti dari Amerika Serikat pada Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manado.
Kerusakan biota laut seperti karang karena asidifikasi antara lain pemutihan karang (bleaching), osteoporosis terumbu karang dan sedimentasi. Nancy mengatakan kerusakan terumbu karang memang telah berlangsung sejak lama, misalnya sekitar 80 persen terumbu karang di Karibia telah hilang selama 30 tahun sejak 1977.
Dia juga menyebutkan terumbu karang di Indonesia Timur dan Papua Nugini tinggal 68 persen, sedangkan kawasan Indonesia Barat tinggal 29 persen. Kerusakan pada terumbu karang, katanya, bisa merusak simbiosis antara terumbu karang dan alga simbiotik yang terjadi karena suhu air laut meningkat dan kadar mineral tinggi (eutropic).
Ia menjelaskan, kematian massal biota laut juga bisa terjadi apabila suhu air laut meningkat secara mendadak atau meningkat sampai diatas suhu yang bisa ditoleransi oleh biota laut.Nancy mengatakan peningkatan suhu laut juga mengikuti peningkatan kadar karbondioksida yaitu bila suhu meningkat satu derajat maka kadar CO2 mencapai 375 ppm (part per milion), bila meningkat dua derajat maka kadar CO2 bisa menjadi 450-500 ppm, dan bila meningkat tiga derajat maka kadar CO2 meningkat menjadi di atas 500 ppm.
Usaha konservasi terhadap biota laut termasuk terumbu karang, katanya, bisa berhasil dilakukan apabila memang terkait langsung dengan ekonomi masyarakat di daerah tersebut.Misalnya dia mencontohkan di Negara Palau, konservasi terumbu karang bisa berhasil karena masyarakat mengandalkan wisata bahari seperti menyelam pada terumbu karang di daerah tersebut.
Nancy juga menyebutkan bahwa nilai ekonomis terumbu karang di dunia seperti dari makanan, perikanan, keanekaragaman dan wisata bahari secara global mencapai 29,8 miliar dolar AS per tahunnya. Sedangkan di Hawai, nilai ekonomis terumbu karang bisa mencapai mencapai 361 juta dolar AS untuk non ekstraktif dan 3 juta dolar AS untuk perikanan pesisir. "Sedangkan di Indonesia bisa mencapai 1,6 miliar dolar AS per tahunnya," tambah Nancy.
Dengan kata lain, laut harus diperlakukan bukan sebagai penyelamat perubahan iklim. Sebaliknya, perubahan iklim harus dicegah sesegera mungkin agar kehidupan biota laut yang ada di dalamnya tetap terjaga dan dapat terus dimanfaatkan secara berlanjut dari generasi ke generasi.
Biota Laut: Apa Dan Bagaimana
Dharma Arif Nugroho
UPT. Balai Konservasi Biota Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI
Jl. Y. Syaranamual, Guru-guru, Poka, Ambon 97233
E-Mail : dharmaarif@yahoo.com, dharma.arif.nugroho@lipi.go.id
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang menjadi tempat hidup bagi berbagai macam biota laut, dari yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar, yang hidup di pesisir hingga hidup di laut dalam. Biota laut adalah berbagai jenis organisme hidup di perairan laut yang menurut fungsinya digolongkan menjadi tiga, yaitu produsen merupakan biota laut yang mampu mensintesa zat organik baru dari zat anorganik, kedua adalah konsumen merupakan biota laut yang memanfaatkan zat organik dari luar tubuhnya secara langsung. Dan yang ketiga adalah redusen merupakan biota laut yang tidak mampu menelan zat organik dalam bentuk butiran, tidak mampu berfotosintesis namun mampu memecah molekul organik menjadi lebih sederhana.
Penggolongan biota laut menurut sifat hidupnya dibedakan menjadi plankton merupakan semua biota yang hidup melayang di dalam air yang pergerakkannya ditentukan oleh lingkungannya. Kemudian nekton adalah semua biota yang dapat berenang bebas dan mengatur sendiri arah perherakkannya dan bentos merupakan semua biota yang hidup didasar perairan baik membenamkan diri, menempel maupun merayap.
Perubahan kondisi laut yang terjadi dimasa lalu hingga saat ini ditambah dengan interaksi biota laut dalam pemangsaan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap daya adaptasi pada biota laut. Kemampuan adaptasi biota laut yang berlanjut dalam jangka waktu lama yang akhirnya menjadi sebuah evolusi menjadikan keanekaragaman biota laut menjadi tinggi. Selain itu, laut dengan berbagai kondisi fisik, kimia dan topografi menjadikan biota laut yang hidup didalamnya semakin beragam.
Keragaman biota laut yang terdapat di wilayah perairan laut Indonesia begitu tinggi. Mulai dari ikan, moluska, krustasea, alga sampai dengan karang kesemuanya ditemukan di perairan laut Indonesia dengan jenis yang sangat beragam. Salah satu bukti tingginya keanekaragaman biota laut di Indonesia adalah dengan terbentuknya Coral Triangle Initiative (CTI) dan Indonesia termasuk didalamnya bersama beberapa negara lain seperti Filipina, Australia, Timor Leste, dan Papua New Guinea. Lebih dari 500 jenis karang hidup di perairan Indonesia, khususnya di perairan laut wilayah timur Indonesia. Kondisi demikian memungkinkan biota laut lain yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang maupun yang hidup dan mencari makan pada ekosistem terumbu karang semakin beragam dan belum banyak diketahui. Hal ini mendorong para peneliti dari dalam negeri maupun luar Indonesia berlomba untuk menggali, mengetahui dan menemukan jenis-jenis biota laut baru. Sehingga kita sebagai peneliti di bidang kelautan dituntut tidak hanya mengetahui namun diharapkan mampu mengenali dengan baik biota yang akan di teliti.
Pengetahuan tentang cara mengenali biota laut kurang diminati, karena untuk mengetahui jenis atau nama spesies biota laut secara detil tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang cukup panjang. Namun, hal ini sangat penting untuk dipelajari mengingat Indonesia adalah negara dengan megabiodiversity.
1. PENDAHULUANIndonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Berbagai jenis organisme baik tanaman, hewan maupun mikroorganisme tersebar luas dengan jumlah yang melimpah. Di dalam organisme tersebut terkandung senyawa kimia hasil metabolisme yang digunakan sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensinya. Senyawa tersebut dikenal sebagai metabolit sekunder. Potensi senyawa metabolit sekunder yang ada merupakan pustaka kimia (chemical library) yang dapat dieksplorasi dan dijadikan rujukan untuk kajian upaya pemanfaatannya. Salah satu sumber daya hayati yang belum optimal untuk dieksplorasi dan dimanfaatkan adalah biota laut. Indonesia adalah bagian dari wilayah Indopasifik, yang merupakan salah satu pusat keanekaragaman biota laut terbesar di dunia. Sumber daya biota laut tersebut merupakan aset potensial yang dapat didayagunakan menjadi produk untuk diaplikasikan pada berbagai bidang, terutama bidang farmasi. Jenis biota laut di daerah tropis Indonesia diperkirakan 2 – 3 kali lebih besar dibandingkan dengan biota laut di daerah subtropis dan daerah beriklim dingin (10)Sponge merupakan binatang multiselular primitif (metazoa) tanpa jaringan nyata. Binatang sponge ini merupakan salah satu obyek utama dalam penelitian eksplorasi “natural product”. Jumlah dan penyebaran sponge sangat banyak. Sekitar 7000 jenis sponge telah dipublikasi(1), tetapi berdasarkan perkiraan sekitar 15.000 spesies hidup di perairan laut dan danau. Di Australia 1.400 spesies telah dipublikasi dalam literatur ilmiah dan diperkiraan sekitar 5000 jenis sponge hidup di wilayah benua tersebut (9). Plat sahul, suatu wilayah yang terletak di antara bagian tenggara Indonesia dan bagian barat laut Australia merupakan daerah yang paling banyak ditemukan jenis sponge Demospongiae. Sekitar 830 jenis binatang sponge hidup tersebar di wilayah laut Indonesia (8).